Sunday, 7 September 2014

Menyapa Sang Rembulan

Tentang suatu waktu dan seorang gadis.

Suatu waktu, yang tak terencanakan.
Dan seorang gadis yang mencari pencerahan.

Suatu waktu,
Sang gadis tercengang,
Tengah mendapati dirinya berada di persimpangan.
Maksud hati berjalan terus, namun ia berhenti.
Ia menemukannya,
Cahaya menyengat itu, yang menyilaukan.
Ia tengok ke angkasa, ia lihat sang matahari,
Tersenyum bersama panas, terik, dan hangatnya, kepadanya.
Nyaman.
Namun,
Sang gadis jadi tak suka ketika gelap tiba,
Tak bisa melihat matahari, pikirnya.
Ia memilih terus berada pada siang.
Ia pinta setiap hari adalah siang.
Hingga akhirnya tak pernah ia jumpai malam.
Karena baginya, malam terlalu gelap, sunyi, dan menyeramkan.
Dan suatu waktu, sang gadis menyadari.
Terlalu lama bersama matahari,
Membuat sendinya kaku,
Kulitnya terbakar,
Pandangannya buram,
Terlalu menyilaukan, pikirnya.
Cukup, katanya.
Kini aku harus berani menjumpai malam.
Hingga suatu waktu yang lain.
Ia berdiri diam,
Tak lagi ia tangisi matahari yang terbenam.
Ia pejamkan mata, ia rengkuh badan dengan kedua tangannya,
Bersiap-siap.
Dan saat ia buka matanya, terpesona.
Itu dia!
Bentuknya sempurna,
Terlihat jelas hingga ke tepian.
Bukan, ini tak sama.
Jauh sangat berbeda.
Cahayanya tak menyilaukan, tak membakar.
Tak menyakitinya.
Sang gadis kemudian terduduk diam, tersenyum malu.
Ia berkata,
"Kenapa selalu mendambakan matahari,
...ketika rembulan saja sudah cukup terang bagiku?"