Sang pahlawan semesta, begitu kusebutnya.
Kini, saat ini, kaulah yang menjadi pujaan semesta,
Kau yang menjadi sari pati perhatian semesta,
Kau sang matahari.
Kau menikmatinya.
Aku,
Bagian dari semesta itu.
Namun di persimpangan jalan, aku menjauh.
Aku menjauh dari semesta,
Aku berhenti sejenak...
Tersadar,
Bukan,
Kau bukanlah pahlawannya.
Setidaknya bukan lagi.
Ketika kutengok dunia kecil ini, Aku.
Telah hancur lebur.
Aku tercengang.
Bukankah engkau yang dulu mengajakku mengenal semesta?
Bukankah engkau yang dulu menarikku meninggalkan dunia kecil ini?
Bukankah engkau yang dulu bersikukuh bahwa engkau menjadi pusat peredaran dunia kecilku ini?
Tapi sekarang semua suram, gelap.
Duniaku ditinggal mataharinya.
Sang pahlawan yang terbuai semesta.
No comments:
Post a Comment