Sama saja.
Aku lelah kembali berputar2 di rotasi yang sama.
Sia saja.
Kembalinya keadaan, kembalinya kepayahan.
Habis saja.
Lagi2 akan menjadi yang ditinggalkan, tanpa kata2.
Mati saja.
gobalgabul
Friday, 22 May 2015
Saturday, 28 February 2015
Lucu bukan?
Ketika seseorang yang dulu menggenggammu erat
Menyerah.
Lucu bukan?
Ketika kemudian tangan gagah itu kembali mengulur padamu
Menarik kembali.
Lugu bukan?
Ketika akhirnya kau raih kembali
Menyatu kembali.
Begitulah cinta, katanya.
Akan selalu ada alasan,
Akan selalu mencari-cari alasan,
Pembenaran.
Namun seharusnya tak pernah ada cinta yang cuma-cuma,
Tidak. Itu konyol.
Seperti kealpaanmu,
Lagi.
Karena kau tau, sayang...
Semakin aku dibiasakan oleh alpamu,
Semakin mahir aku hidup tanpamu.
Karena percayalah, sayangku...
Yang kedua-pun bisa menjadi sia-sia pada akhirnya.
Ketika seseorang yang dulu menggenggammu erat
Menyerah.
Lucu bukan?
Ketika kemudian tangan gagah itu kembali mengulur padamu
Menarik kembali.
Lugu bukan?
Ketika akhirnya kau raih kembali
Menyatu kembali.
Begitulah cinta, katanya.
Akan selalu ada alasan,
Akan selalu mencari-cari alasan,
Pembenaran.
Namun seharusnya tak pernah ada cinta yang cuma-cuma,
Tidak. Itu konyol.
Seperti kealpaanmu,
Lagi.
Karena kau tau, sayang...
Semakin aku dibiasakan oleh alpamu,
Semakin mahir aku hidup tanpamu.
Karena percayalah, sayangku...
Yang kedua-pun bisa menjadi sia-sia pada akhirnya.
Tuesday, 24 February 2015
Untuk apa?
Baru saja pasak tubuh ini kuat berdiri lagi,
Baru saja terlipur segala nestapa dan tersenyum lagi,
Sang raksasa itu menarikku kembali ke angkasa.
Alih-alih memberiku napas untuk hidup,
Kembali diberinya hampa.
Sambil kutengok bumi kecilku,
Kembali menyisakan satu tanya,
Semua ini untuk apa?
Sunday, 7 September 2014
Menyapa Sang Rembulan
Tentang suatu waktu dan seorang gadis.
Suatu waktu, yang tak terencanakan.
Dan seorang gadis yang mencari pencerahan.
Suatu waktu,
Sang gadis tercengang,
Tengah mendapati dirinya berada di persimpangan.
Maksud hati berjalan terus, namun ia berhenti.
Ia menemukannya,
Cahaya menyengat itu, yang menyilaukan.
Ia tengok ke angkasa, ia lihat sang matahari,
Tersenyum bersama panas, terik, dan hangatnya, kepadanya.
Nyaman.
Namun,
Sang gadis jadi tak suka ketika gelap tiba,
Tak bisa melihat matahari, pikirnya.
Ia memilih terus berada pada siang.
Ia pinta setiap hari adalah siang.
Hingga akhirnya tak pernah ia jumpai malam.
Karena baginya, malam terlalu gelap, sunyi, dan menyeramkan.
Dan suatu waktu, sang gadis menyadari.
Terlalu lama bersama matahari,
Membuat sendinya kaku,
Kulitnya terbakar,
Pandangannya buram,
Terlalu menyilaukan, pikirnya.
Cukup, katanya.
Kini aku harus berani menjumpai malam.
Hingga suatu waktu yang lain.
Ia berdiri diam,
Tak lagi ia tangisi matahari yang terbenam.
Ia pejamkan mata, ia rengkuh badan dengan kedua tangannya,
Bersiap-siap.
Dan saat ia buka matanya, terpesona.
Itu dia!
Bentuknya sempurna,
Terlihat jelas hingga ke tepian.
Bukan, ini tak sama.
Jauh sangat berbeda.
Cahayanya tak menyilaukan, tak membakar.
Tak menyakitinya.
Sang gadis kemudian terduduk diam, tersenyum malu.
Ia berkata,
"Kenapa selalu mendambakan matahari,
...ketika rembulan saja sudah cukup terang bagiku?"
Suatu waktu, yang tak terencanakan.
Dan seorang gadis yang mencari pencerahan.
Suatu waktu,
Sang gadis tercengang,
Tengah mendapati dirinya berada di persimpangan.
Maksud hati berjalan terus, namun ia berhenti.
Ia menemukannya,
Cahaya menyengat itu, yang menyilaukan.
Ia tengok ke angkasa, ia lihat sang matahari,
Tersenyum bersama panas, terik, dan hangatnya, kepadanya.
Nyaman.
Namun,
Sang gadis jadi tak suka ketika gelap tiba,
Tak bisa melihat matahari, pikirnya.
Ia memilih terus berada pada siang.
Ia pinta setiap hari adalah siang.
Hingga akhirnya tak pernah ia jumpai malam.
Karena baginya, malam terlalu gelap, sunyi, dan menyeramkan.
Dan suatu waktu, sang gadis menyadari.
Terlalu lama bersama matahari,
Membuat sendinya kaku,
Kulitnya terbakar,
Pandangannya buram,
Terlalu menyilaukan, pikirnya.
Cukup, katanya.
Kini aku harus berani menjumpai malam.
Hingga suatu waktu yang lain.
Ia berdiri diam,
Tak lagi ia tangisi matahari yang terbenam.
Ia pejamkan mata, ia rengkuh badan dengan kedua tangannya,
Bersiap-siap.
Dan saat ia buka matanya, terpesona.
Itu dia!
Bentuknya sempurna,
Terlihat jelas hingga ke tepian.
Bukan, ini tak sama.
Jauh sangat berbeda.
Cahayanya tak menyilaukan, tak membakar.
Tak menyakitinya.
Sang gadis kemudian terduduk diam, tersenyum malu.
Ia berkata,
"Kenapa selalu mendambakan matahari,
...ketika rembulan saja sudah cukup terang bagiku?"
Sunday, 13 July 2014
Sang Pahlawan Semesta
Sang pahlawan semesta, begitu kusebutnya.
Kini, saat ini, kaulah yang menjadi pujaan semesta,
Kau yang menjadi sari pati perhatian semesta,
Kau sang matahari.
Kau menikmatinya.
Aku,
Bagian dari semesta itu.
Namun di persimpangan jalan, aku menjauh.
Aku menjauh dari semesta,
Aku berhenti sejenak...
Tersadar,
Bukan,
Kau bukanlah pahlawannya.
Setidaknya bukan lagi.
Ketika kutengok dunia kecil ini, Aku.
Telah hancur lebur.
Aku tercengang.
Bukankah engkau yang dulu mengajakku mengenal semesta?
Bukankah engkau yang dulu menarikku meninggalkan dunia kecil ini?
Bukankah engkau yang dulu bersikukuh bahwa engkau menjadi pusat peredaran dunia kecilku ini?
Tapi sekarang semua suram, gelap.
Duniaku ditinggal mataharinya.
Sang pahlawan yang terbuai semesta.
Kini, saat ini, kaulah yang menjadi pujaan semesta,
Kau yang menjadi sari pati perhatian semesta,
Kau sang matahari.
Kau menikmatinya.
Aku,
Bagian dari semesta itu.
Namun di persimpangan jalan, aku menjauh.
Aku menjauh dari semesta,
Aku berhenti sejenak...
Tersadar,
Bukan,
Kau bukanlah pahlawannya.
Setidaknya bukan lagi.
Ketika kutengok dunia kecil ini, Aku.
Telah hancur lebur.
Aku tercengang.
Bukankah engkau yang dulu mengajakku mengenal semesta?
Bukankah engkau yang dulu menarikku meninggalkan dunia kecil ini?
Bukankah engkau yang dulu bersikukuh bahwa engkau menjadi pusat peredaran dunia kecilku ini?
Tapi sekarang semua suram, gelap.
Duniaku ditinggal mataharinya.
Sang pahlawan yang terbuai semesta.
Friday, 11 July 2014
Kepadamu
Ajari aku cara merela,
Agar sudahi hati ini merana.
Ajari aku cara melepas,
Agar rasa ini tak lagi buas.
Ajari aku untuk keluar,
Habisi mata batin yang nanar.
Ajari aku cara ikhlas,
Walau dengan penuh cabikan berbekas.
Kepadamu sang penyita perhatianku,
Kepadamu sang penggoyah batinku,
Kepadamu sang pembunuh jiwaku,
Kepadamu.
Agar sudahi hati ini merana.
Ajari aku cara melepas,
Agar rasa ini tak lagi buas.
Ajari aku untuk keluar,
Habisi mata batin yang nanar.
Ajari aku cara ikhlas,
Walau dengan penuh cabikan berbekas.
Kepadamu sang penyita perhatianku,
Kepadamu sang penggoyah batinku,
Kepadamu sang pembunuh jiwaku,
Kepadamu.
Friday, 4 July 2014
Subscribe to:
Comments (Atom)