Tentang suatu waktu dan seorang gadis.
Suatu waktu, yang tak terencanakan.
Dan seorang gadis yang mencari pencerahan.
Suatu waktu,
Sang gadis tercengang,
Tengah mendapati dirinya berada di persimpangan.
Maksud hati berjalan terus, namun ia berhenti.
Ia menemukannya,
Cahaya menyengat itu, yang menyilaukan.
Ia tengok ke angkasa, ia lihat sang matahari,
Tersenyum bersama panas, terik, dan hangatnya, kepadanya.
Nyaman.
Namun,
Sang gadis jadi tak suka ketika gelap tiba,
Tak bisa melihat matahari, pikirnya.
Ia memilih terus berada pada siang.
Ia pinta setiap hari adalah siang.
Hingga akhirnya tak pernah ia jumpai malam.
Karena baginya, malam terlalu gelap, sunyi, dan menyeramkan.
Dan suatu waktu, sang gadis menyadari.
Terlalu lama bersama matahari,
Membuat sendinya kaku,
Kulitnya terbakar,
Pandangannya buram,
Terlalu menyilaukan, pikirnya.
Cukup, katanya.
Kini aku harus berani menjumpai malam.
Hingga suatu waktu yang lain.
Ia berdiri diam,
Tak lagi ia tangisi matahari yang terbenam.
Ia pejamkan mata, ia rengkuh badan dengan kedua tangannya,
Bersiap-siap.
Dan saat ia buka matanya, terpesona.
Itu dia!
Bentuknya sempurna,
Terlihat jelas hingga ke tepian.
Bukan, ini tak sama.
Jauh sangat berbeda.
Cahayanya tak menyilaukan, tak membakar.
Tak menyakitinya.
Sang gadis kemudian terduduk diam, tersenyum malu.
Ia berkata,
"Kenapa selalu mendambakan matahari,
...ketika rembulan saja sudah cukup terang bagiku?"
Sunday, 7 September 2014
Sunday, 13 July 2014
Sang Pahlawan Semesta
Sang pahlawan semesta, begitu kusebutnya.
Kini, saat ini, kaulah yang menjadi pujaan semesta,
Kau yang menjadi sari pati perhatian semesta,
Kau sang matahari.
Kau menikmatinya.
Aku,
Bagian dari semesta itu.
Namun di persimpangan jalan, aku menjauh.
Aku menjauh dari semesta,
Aku berhenti sejenak...
Tersadar,
Bukan,
Kau bukanlah pahlawannya.
Setidaknya bukan lagi.
Ketika kutengok dunia kecil ini, Aku.
Telah hancur lebur.
Aku tercengang.
Bukankah engkau yang dulu mengajakku mengenal semesta?
Bukankah engkau yang dulu menarikku meninggalkan dunia kecil ini?
Bukankah engkau yang dulu bersikukuh bahwa engkau menjadi pusat peredaran dunia kecilku ini?
Tapi sekarang semua suram, gelap.
Duniaku ditinggal mataharinya.
Sang pahlawan yang terbuai semesta.
Kini, saat ini, kaulah yang menjadi pujaan semesta,
Kau yang menjadi sari pati perhatian semesta,
Kau sang matahari.
Kau menikmatinya.
Aku,
Bagian dari semesta itu.
Namun di persimpangan jalan, aku menjauh.
Aku menjauh dari semesta,
Aku berhenti sejenak...
Tersadar,
Bukan,
Kau bukanlah pahlawannya.
Setidaknya bukan lagi.
Ketika kutengok dunia kecil ini, Aku.
Telah hancur lebur.
Aku tercengang.
Bukankah engkau yang dulu mengajakku mengenal semesta?
Bukankah engkau yang dulu menarikku meninggalkan dunia kecil ini?
Bukankah engkau yang dulu bersikukuh bahwa engkau menjadi pusat peredaran dunia kecilku ini?
Tapi sekarang semua suram, gelap.
Duniaku ditinggal mataharinya.
Sang pahlawan yang terbuai semesta.
Friday, 11 July 2014
Kepadamu
Ajari aku cara merela,
Agar sudahi hati ini merana.
Ajari aku cara melepas,
Agar rasa ini tak lagi buas.
Ajari aku untuk keluar,
Habisi mata batin yang nanar.
Ajari aku cara ikhlas,
Walau dengan penuh cabikan berbekas.
Kepadamu sang penyita perhatianku,
Kepadamu sang penggoyah batinku,
Kepadamu sang pembunuh jiwaku,
Kepadamu.
Agar sudahi hati ini merana.
Ajari aku cara melepas,
Agar rasa ini tak lagi buas.
Ajari aku untuk keluar,
Habisi mata batin yang nanar.
Ajari aku cara ikhlas,
Walau dengan penuh cabikan berbekas.
Kepadamu sang penyita perhatianku,
Kepadamu sang penggoyah batinku,
Kepadamu sang pembunuh jiwaku,
Kepadamu.
Friday, 4 July 2014
Thursday, 3 July 2014
which one?
ketika kenyataan susah dibedakan..
mana yang baik, mana yang kurang baik, dan mana yang tidak baik.
sering orang bilang, jalani yang terbaik.
tapi, apakah yang kita yakin selama ini yang pilih adalah yang terbaik?
sama seperti kamu yang sedang dihadapkan dengan kenyataan bahwa,
hidupmu tak akan lagi sama,
tak akan pernah lagi sama seperti sedia kala.
bukan pilihan mudah mengambil keputusan mana yang baik atau yang buruk.
bagaimana kalau ternyata keputusan yang kita anggap buruk ternyata menyakiti orang lain?
atau,
bagaimana kalau ternyata sesuatu yang kita anggap baik itu hanyalah gemerlap kebahagiaan sementara?
karena kau dihadapkan padanya, setiap hari, setiap saat.
mana yang baik, mana yang kurang baik, dan mana yang tidak baik.
sering orang bilang, jalani yang terbaik.
tapi, apakah yang kita yakin selama ini yang pilih adalah yang terbaik?
sama seperti kamu yang sedang dihadapkan dengan kenyataan bahwa,
hidupmu tak akan lagi sama,
tak akan pernah lagi sama seperti sedia kala.
bukan pilihan mudah mengambil keputusan mana yang baik atau yang buruk.
bagaimana kalau ternyata keputusan yang kita anggap buruk ternyata menyakiti orang lain?
atau,
bagaimana kalau ternyata sesuatu yang kita anggap baik itu hanyalah gemerlap kebahagiaan sementara?
karena kau dihadapkan padanya, setiap hari, setiap saat.
Sunday, 29 June 2014
TOPENG
Topengku,
sempurna.
Hari demi hari kulakoni sandiwara ini layaknya aku sang artisan papan atas.
Melenggok kesana kemari bak tak punya beban kehidupan.
Tertawa sana sini bak hidup ini hanya penuh penuh canda dan kebahagiaan.
Tak ada yang tahu,
Tak ada yang peduli.
Bagi manusia, apa yang dilihat dengan mata kepalanya sudah cukup,
tak butuh banyak pemikiran.
Namun tak ada yang tahu.
Bahwa lincah ini, hanyalah pelipur segala luka yang tengah menganga.
Bahwa tawa ini, hanyalah jeritan yang dimanipulasi bentuknya.
Tak ada yang perlu tahu.
sempurna.
Hari demi hari kulakoni sandiwara ini layaknya aku sang artisan papan atas.
Melenggok kesana kemari bak tak punya beban kehidupan.
Tertawa sana sini bak hidup ini hanya penuh penuh canda dan kebahagiaan.
Tak ada yang tahu,
Tak ada yang peduli.
Bagi manusia, apa yang dilihat dengan mata kepalanya sudah cukup,
tak butuh banyak pemikiran.
Namun tak ada yang tahu.
Bahwa lincah ini, hanyalah pelipur segala luka yang tengah menganga.
Bahwa tawa ini, hanyalah jeritan yang dimanipulasi bentuknya.
Tak ada yang perlu tahu.
Ketika Jogja
Tidak ada yang berbeda,
Jogja masih sama.
Hanya saja,
Entah sesak yang terasa,
Jogja seperti...kehabisan udara.
Napasku,
Diambang batas.
Pengap.
Nyaris tak beruang.
Bukan Jogja yang berubah,
Hanya sesuatu seakan terhisap,
Sosok, menghilang.
Membawa seluruh udara Jogja.
Membuatku habis kepayahan,
Tak bernapas.
Jogja masih sama.
Hanya saja,
Entah sesak yang terasa,
Jogja seperti...kehabisan udara.
Napasku,
Diambang batas.
Pengap.
Nyaris tak beruang.
Bukan Jogja yang berubah,
Hanya sesuatu seakan terhisap,
Sosok, menghilang.
Membawa seluruh udara Jogja.
Membuatku habis kepayahan,
Tak bernapas.
Friday, 6 June 2014
Kerumunan Sesal
Sesak.
Terlalu
pekat rasanya,
Sari pati
sesal.
Kepada
waktu,
Heranku
memuncak hampir ke ubun-ubun.
Kepada
hati,
Penatku
lelah menjerit pada kekosongan.
Prinsip ini
telah rusak sempurna.
Waktu ini telah
terkuras banyaknya.
Tenaga ini telah
lelah menjamah dunia.
Fikiran ini
telah habis dihajar logika.
Dan hati
ini telah koyak ditikam sesalnya.
Kepada
waktu yang tak bisa kembali,
Kepada kesia-siaan
yang tertumpuk berserakan,
Kepada
tenaga dan fikiran yang terbuang,
Kepada
kerumunan baru yang akan menjadi teman,
Sesal.
Thursday, 5 June 2014
megap-megap
selamat sore menjelang petang hai hati baja yang mulai dingin...
begini rupanya, rasa tumbuh.
begini rupanya, rasa hidup dewasa.
begini rupanya, rasa beranjak ke yang disebutnya fase selanjutnya.
katanya, hati yang penuh tambalan lebih bagus ketimbang yang masih mulus tak bergores.
yang satu ini memang kadang digelitik perasaan senang, dikejutkan canda-tawa riang.
kadang pula terhiasi segala jenis bunga-bungaan.
namun yang satu ini juga sudah banyak goresan, banyak bekas cakaran.
yang satu ini sempat ditikam belati berkarat dan penuh tanda lebam.
yang satu ini,
kini,
yang sedang megap-megap,
nyaris kehilangan fungsi.
tapi mungkin memang pertanda dia bagus :)
begini rupanya, rasa tumbuh.
begini rupanya, rasa hidup dewasa.
begini rupanya, rasa beranjak ke yang disebutnya fase selanjutnya.
katanya, hati yang penuh tambalan lebih bagus ketimbang yang masih mulus tak bergores.
yang satu ini memang kadang digelitik perasaan senang, dikejutkan canda-tawa riang.
kadang pula terhiasi segala jenis bunga-bungaan.
namun yang satu ini juga sudah banyak goresan, banyak bekas cakaran.
yang satu ini sempat ditikam belati berkarat dan penuh tanda lebam.
yang satu ini,
kini,
yang sedang megap-megap,
nyaris kehilangan fungsi.
tapi mungkin memang pertanda dia bagus :)
Subscribe to:
Comments (Atom)